Kamis, 28 Juli 2016

Di Tepi Udara

Jarum jam mengelilingi angka yang tak berujung tak berhenti
Mungkin sama seperti perasaan yang kini aku miliki

Saat itu rasanya aku seperti tak punya nyawa
Seperti kehilangan detak jantung yang tiba-tiba lenyap

Dan saat itu juga ,
Langkahku tiba-tiba melayang
Seperti tak punya arah untuk kemana

Seperti pepohonan yang layu
Sudah tak mungkin kembali hidup

Tapi Tuhan punya cara lain
Agar aku mampu bertahan
Dan kau Tuhan hadirkan
Untukku yang kehausan
Kau bagai seteguk air yang bangkitkan hidup kembali

Ada banyak , tak pernah terhitung
Kata , kalimat , paragraf , cerita yang aku ucapkan di depan cermin
Dan jika aku kehilangan , aku akan mencari mentari , karena mentari akan datangkan aku teman
Meskipun hanya sebuah bayangan
Hanya itu , cara mengusir rasa sepiku

Kau tahu ?
Banyak udara yang ku hela saat menunggu mu datang
Banyak pikiran yang lalu lalang tak beraturan
Ini hanya sebagian dari hidupku yang segelintir

Saat aku menangis ,
Aku hanya sembunyi dibalik hujan
Aku merenung dibalik debu
Aku berteriak seriuh ombak
Tak pernah tahu harus lakukan apa yang ku bisa

Tapi kau membuay semuanya menghilang
Bebanku berjatuhan
Seperti dedaunan tertiup angin
Meski perlahan , tapi itu pasti

Saat kau coba menghitung helai rambutku
Menenangkan bagai obat bius yang membuat tak ingat apapun
Yang ku ingat hanya denyut nadi dan detak jantung mu
Ketika ku sandarkan bola fikiranku di lapangan hidup mu

Kau jadikan aku seperti yang seharusnya
Semuanya terasa istimewa
Seketika berubah menjadi musim semi yang hangat
Yang selalu aku rindukan

Dan genggaman yang kau simpan di tanganku
Ku jadikan tanda agar kau selalu kembali
Selalu menjadi hidupku , apapun yang kulalui . . .

Parahyangan , 15 September 2016